Sabtu, 14 Maret 2015

Proses penciptaan bayi di perut sang Ibu

MANUSIA

Hadits

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ قاَلَ ;حَدَّثَناَ رَسُوْلُ اللّهِ .صلم. وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ ; إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيُجْمَعُ خَلْقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّه أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً ، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذاَلِكَ ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذاَلِكَ ،  ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِماَتٍ ; رِزْقِه ، وَأَجَلِه ، وَعَمَلِه ، وَهَلْ هُوَ شَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ - الحديث رواه أحمد -


“ Dari Ibnu Mas’ud RA, ia berkata : Telah bersabda kepada kami Rasulullah SAW – Beliau  adalah orang yang jujur dan terpercaya; “Sesungguhnya seorang diantara kamu (setiap kamu) benar-benar diproses kejadiannya dalam perut ibunya selama 40 hari berwujud air mani; kemudian berproses lagi selama 40 hari menjadi segumpal darah; lantas berproses lagi selama 40 hari menjadi segumpal daging; kemudian malaikat dikirim kepadanya untuk meniupkan roh kedalamnya; lantas (sang janin) itu ditetapkan dalam 4 ketentuan :
1. Ditentukan (kadar) rizkinya,
2. Ditentukan batas umurnya,
3. Ditentukan amal perbuatannya,
4. Ditentukan apakah ia tergolomg orang celaka ataukah orang yang beruntung“
(HR Ahmad).

Penjelasan Hadis :
           
Hadis tersebut Dimuka menjelaskan proses kejadian manusia dalam rahim ibunya, yaitu 40 hari pertama berwujud “ Nutfah “ (air mani laki-laki bersenyawa dengan sel telur perempuan), 40 hari kedua berproses menjadi “ Alaqah “ (segumpal darah), 40 hari ketiga berproses menjadi “ Mudlghoh “ (segumpal daging).
           
Hadis tersebut di muka lebih lanjut menjelaskan bahwa saat berwujud mudlghah itulah Allah SWT mengirim malaikat untuk memasangkan roh kepadanya bersamaan dengan ditetapkannya 4 ketentuan.


Dari Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menceritakan kepada kami dan beliau seorang yang jujur lagi diakui kejujurannya, “Sesungguhnya seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya selama empat puluh hari berupa sperma, kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula, kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian diutus seorang malaikat kepadanya untuk meniupkan ruh padanya, dan diperintahkan empat kalimat: menulis rezekinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagia. Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, sesungguhnya seorang dari kalian benar-benar beramal dengan amal penghuni surga hingga jarak antaranya dan surga hanya sejengkal, lalu takdir mendahuluinya, lalu dia beramal dengan amal penduduk neraka lalu ia pun memasukinya. Dan sesungguhnya seorang dari kalian benar-benar  beramal dengan amal penduduk neraka hingga jarak antaranya dengan neraka hanya sejengkal, lalu takdir mendahuluinya, lalu ia beramal dengan amal penduduk surga, maka ia pun memasukinya.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.

Hadist diatas ini mengandung beberapa hal, antara lain sebagai berikut:

1.  Penjelasan Fase perkembangan janin di dalam rahim:
           
Hadits diatas ini menunjukkan bahwa janin diciptakan seratus dua puluh hari dalam tiga tahapan. Setiap tahapan adalah selama empat puluh hari. Pada empat puluh hari pertama berupanuthfah, pada empat puluh hari kedua berupa ‘alaqah dan empat puluh hari ketiga berupa mudhghah, dan pada hari ke seratus dua puluh, malaikat meniupkan ruh kepadanya, lalu dituliskan baginya kalimat. Allah Ta’ala  menyebutkan dalam kitab-Nya bahwa janin diciptakan dalam fase-fase tersebut, sebagaiamana firman-Nya:

“dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.” (Q.S. Al-Mukminun: 12-14)
               
Dalam ayat ini Allah menyebutkan empat fase yang disebutkan didalam hadits, lalu menambahinya dengan fase lainnya sehingga menjadi tujuh fase.

2.      Penjelasan ditiupnya ruh
           
Para ulama bersepakat bahwa ruh ditiupkan ke dalam janin setelah janin berumur seratus dua puluh hari terhitung dari mulai terjadinya pembuahan. Yaitu ketika usia kehamilan sudah empat bulan dan memasuki bulan yang kelima.
           
Semua itu benar berdasarkan kenyataan yang dapat disaksikan, maka semenjak itu ditetapkan hukum-hukum untuk memenuhi kebutuhannya seperti hukum tentang penyandaran nasabnya dan kewajiban pemberian nafkah. Dan hal itu diyakinkan dengan bergeraknya janin dalam rahim. Inilah hikmah mengapa istri yang ditinggal mati suaminya, masa iddahnya selama empat bulan sepuluh hari. Alasannya ialah untuk meyakinkan bahwa rahimnya benar-benar kosong dari janin tanpa ada sedikit pun tanda-tanda kehamilan. Ruh, yang membuat manusia hidup, adalah urusan Allah sebagaimana firman-Nya,
 “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (Q.S. Al-Isra: 85)
           
Dalam syarah Muslim karangan Imam Nawawi disebutkan bahwa ruh adalah jasad halus yang mengalir dalam badan dan merambat di dalamnya sebagaimana merambatnya air didalam batang pohon yang hidup. Dalam kitab Ihya Ulumuddin Imam Al-Ghazali berkata, “ruh adalah unsur yang berdiri sendiri yang bekerja di dalam badan.”

3.      Penjelasan haramnya menggugurkan kandungan
           
Para ulama bersepakat atas haramnya menggugurkan kandungan (aborsi) setelah ditiupkanya ruh kedalam janin. Hal itu dipandang sebagai tindakan criminal yang haram dilakukan oleh seorang muslim. Karena hal itu merupakan tindakan kejahatan atas orang yang telah hidup dengan sempurna.
           
Adapun aborsi sebelum ditiupkannya ruh, maka hukumnya haram juga. Demikianlah pendapat sebagaian para ahli fiqih. Dalil yang menjadi landasan mereka adalah hadist shahih yan menjelaskan bahwa penciptaan dimulai dari menetapnya sperma didalam rahim. Imam Muslim meriwayatkan dari Hudzaifah bin Usaid, sesungguhnya Nabi SAW bersabda, yang artinya:
“Jika nuthfah telah melewati empat puluh dua malam – dalam sebagian riwayat empat puluh sekian malam – Allah mengutus malaikat untuk membentuk rupanya, menciptalkan pendengaran, penglihatan, kulit, daging dan tulang belulang.”
           
Dalam kitab Jami’ul Ilmi wal Hikam  yang ditulis oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali, hal 42, disebutkan, “sebagian ahli Fiqih merukhsahkan (memberi keringanan) bagi wanita untuk melakukan aborsi selama ruh belum ditiupkan ke dalam janin dan menganologikannya dengan azal pendapat ini adalah pendapat yang lemah karena janin adalah anak yang sudah tercipta dan adakalanya sudah berbentuk, sedang azal sama sekali belum ada wujud janin, tetapi hanya menghalangi terciptanya janin, bahkan jika Allah berkehendak, azal sama sekali tidak menghalangi untuk terciptanya bayi.
           
Dalam Ihya Ulumuddin karangan Al-Ghazali, 2/51 : ‘azal itu tidak bisa disamakan dengan aborsi dan mengubur anak hidup-hidup karena kedua tindakan tersebut adalah kejahatan terhadap makhluk yang sudah berwujud, dan wujudnya memiliki beberapa tahapan. Tahapan pertama adalah tersimpannya  nuthfah  di dalam rahim dan bercampur dengan ovum wanita serta siap untuk menerima nyawa, maka merusak benda tersebut merupakan kejahatan. Apabila  nuthfah  menjadi ‘alaqah, maka kejahatannya lebih besar, dan apabila telah ditiupkan ke dalamnya ruh dan menjadi makhluk yang sempurna, maka kejahatannya pun termasuk ke dalam dosa besar dan puncak kejahatan adalah membunuh bayi yang sudah keluar dari perut dalam keadaan hidup.

4.      Penjelasan tentang Ilmu Allah Ta’ala
           
Sesungguhnya Allah mengetahui keadaan makhluk sebelum penciptaannya. Maka, tidak ada satu keadaan pun berupa iman, taat, kafir, maksiat, bahagia dan celaka kecuali semuanya diketahui oleh Allah dan berdasarkan kehendak-Nya. Banyak nash dari kitab yang menjelaskan hal itu. Dalam riwayat Bukhari dari Ali bin Abi Thalib RA dari Nabi SAW  berkata, “Tidak ada makhluk yang bernafas kecuali Allah  telah menentukan tempatnya di surga atau di neraka, telah dituliskan celaka atau bahagia.” Seseorang bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kita berpegang dengan ketentuan tersebut dan meninggalkan amal?” Nabi menjawab, “Bekerjalah kalian dan setiap orang akan diberikan kemudahan sesuai dengan yang diciptakan baginya. Adapun orang-orang yang berbahagia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan-amalan kebaikan dan orang-orang celaka akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan-amalan yang akan menghantarkan kepada kecelakaan.”

Kemudian beliau membaca firman Allah,
“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga),” (Q.S. Al-Lail: 5-6)
           
Ilmu allah tidak menghalangi kebebasan hamba untuk memilih dan meraih apa yang mereka inginkan. Karena ilmu adalah sifat yang tidak memiliki pengaruh. Allah memerintahkan makhluk-Nya untuk beriman dan taat, melarang mereka untuk kufur dan maksiat dan itu merupakan bukti bahwa hamba memilki kebebasan untuk memilih dan meraih apa yang mereka inginkan. Karena kalau tidak demikian, maka sia-sialah semua perintah dan larangan-Nya dan ini mustahil bagi Allah SWT. Allah berfirman,
“dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Q.S. Asy-Syam: 7-10)

5.      Penjelasan tentang amal dinilai dengan akhirnya
           
Riwayat bukhari dari Sahal bin Sa’ad dari Nabi SAW, beliau bersabda, “sesungguhnya amal itu tergantung kepada niatnya.” Artinya barangsiapa yang baginya dituliskan keimanan dan ketaatan di akhir umurnya, adakalanya dia kufur dan maksiat pada suatu saat, kemudian Allah memberi taufik kepadanya dengan keimanan dan ketaatan pada waktu menjelang akhir hayatnya. Dia meninggal dalam keadaan demikian, maka dia masuk surga. Barangsiapa yang telah ditetapkan baginya kekufuran dan kefasikan di akhir hayatnya. Walau dalam suatu waktu  dia beriman dan taat, kemudian Allah membiarkannya – dikarenakan usaha, amal dan keinginannya – dia mengatakan kalimat kekufuran, lalu beramal dengan amal ahli neraka dan meninggal dalam keadaan demikian, maka dia masuk neraka.

Kesunahan Mentahnik bayi yang baru lahir

PERTANYAAN ;
Assalamua'laikum. Ada yang tau ga bagaimana cara tahnik (pemberia kurma) pada bayi baru lahir..? Harus ustad/kyai atau cukup orangtua yg melakukannya..?? Mksh. Wassalam.

JAWABAN ;
Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata dlm kitabnya fathul bari juz 9 hal 558, tahnik ialah mengunyah sesuatu, kemudian meletakkan / memasukkannya ke mulut bayi lalu menggosok2kan kelangit2 mulut. Hal ini di lakukan dg tujuan agar bayi trlatih dg makanan, dan untuk menguatkan atasnya. Dan yg mesti di lakukan dari mentahnik hendaklah mulut bayi tsb di buka shg sesuatu yg tlh di kunyah masuk ke dlm perutnya. Yg lebih utama mentahnik di lakukan dg kurma kuning, jk tdk mendapatkan mk dg kurma basah, kalau tdk ada kurma bisa di ganti dg sesuatu yg manis (madu).

Abu Burdah dari Abu Musa, ia berkata:


 ولد لى غلام فأتيت به النبى صلى الله عليه وسلم فسماه ابراهيم وحنكه بتمرة



Artinya : Pernah dikaruniakan kepadaku seorang anak laki2 lalu aku membawanya kehadapan Rasulullah saw mk beliau memberinya nama Ibrahim dan mentahniknya dg sebuah kurma. (HR. Bukhari dan Muslim)

imam Nawawi berkata dlm kitab Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim juz 14 hal 124 adalah hadist ini adalah anjuran mentahnik atau mengunyah anak yg baru lahir dan ini merupakan sunnah dg ijma'. Hendaknya yg mentahnik adalah orang yg shalih dari kalangan laki2 atau wanita. Tahnik di lakukan dg kurma dan ini mustahab (sunnah) tp apabila ada yg mentahnik dg selain kurma mk telah terjadi perbuatan tahnik. Sedangkan tahnik dg kurma adalah lebih utama. Faidahnya adalah menyerahkan pemberian nama untuk anak kpd orang yg shalih dan ia memilihkan untuk si anak nama yg kamu senangi.


Wallahu a'lam

Tahnik adalah melolohkan kurma yang sudah dikunyah oleh orang tuanya atau orang sholih/sholihah dengan menggerak-gerakkan dari kiri ke kanan hingga merata di langit-langit mulut bayi dengan lembut seraya berdoa dan berzdikir.
Melolohkan (memasukkan) buah kurma ke dalam mulut bayi adalah sebuah perkara menakjubkan karena di dalamnya terdapat manfaat kesehatan yang besar. Terbukti buah kurma mengandung unsur-unsur penting yang dapat melindungi bayi dari penyakit dan menguatkan daya tahan tubuh. Kurma juga berkhasiat melindungi dan membentengi anak sepanjang hidupnya, terlebih dari itu hikmah melolohkan (memasukkan) kurma ke dalam mulut bayi berguna untuk menguatkan saraf-saraf mulut bayi berguna untuk menguatkan saraf-saraf mulut dan gerakan lisan beserta tenggorokan dan dua tulang rahang bawah dengan jilatan sehingga anak siap untuk menghisap air susu ibunya dengan kuat dan alami.

Manfaat Buah Kurma Untuk Kesehatan
1. Menguatkan imunity 
2. Mencerdaskan otak 
3. Meningkatkan daya tahan (antibody) 
4. meningkatkan Hemoglobin (Baik untuk penderita animea) 
5. Meningkatkan jumlah trombosit 
6. Sebagai multivitamin 
7. Anti bakteri dan virus 
8. Baik untuk masa pertumbuhan 
9. Mengatur kepadatan tulang 
10. Meningkatkan nafsu makan 
11. Memelihara ketajaman mata dan pendengaran 
12. Menenangkan dan menguatkan syaraf 
13. Menstabilkan kejiwaan anak 
14. Melancarkan BAB 
15. Mengobati cacingan 
16. Mengobati panas (demam), flu, batuk 
17. menghaluskan kulit.
Adapun dalil-dalil yang menunjukkan kesunahan tahnik,diantaranya :
Imam Bukhori meriwayatkan, Abu Musa r.a berkata:

وُلِدَ لِى غُلاَمٌ فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ وَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ.

“(Suatu saat) aku memiliki anak yang baru lahir, kemudian aku mendatangi Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau memberi nama padanya dan beliau mentahnik dengan sebutir kurma.”
Dari ‘Aisyah, beliau berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يُؤْتَى بِالصِّبْيَانِ فَيُبَرِّكُ عَلَيْهِمْ وَيُحَنِّكُهُمْ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangkan anak kecil, lalu beliau mendoakan mereka dan mentahnik mereka.”
An Nawawi menyebutkan dua hadits di atas dalam Shahih Muslim:

استحباب تحنيك المولود عند ولا دته وحمله إلى صالح يحنكه وجواز تسميته يوم ولا دته واستحباب التسمية بعبدالله وإبراهيم وسائر أسماء الأنبياء عليهم السلام

”Dianjurkan mentahnik bayi yang baru lahir, bayi tersebut dibawa ke orang sholih untuk ditahnik. Juga dibolehkan memberi nama pada hari kelahiran. Dianjurkan memberi nama bayi dengan Abdullah, Ibrahim dan nama-nama nabi lainnya.”
Makanan yang dijadikan media Tahnik adalah Kurma,jika tidak ada maka boleh menggunakan yang manis-manis seperti madu dan atau makanan manis yang tanpa melalui pengolahannya dengan api.
Orang yang mentahnik adalah orang tuanya, jika tidak maka oleh orang yang sholih atau sholihah 
I'anatu Al-Tholibin

(قوله: وأن يحنكه) أي وسن أن يحنك المولود ذكرا أو أنثى لانه (ص): أتى بابن أبي طلحة..حين ولد وتمرات، فلاكهن، ثم فغرفاه، ثم مجه فيه، فجعل يتلمظ، فقال (ص): حب الانصار التمر، وسماه: عبد الله.

رواه مسلم.

والتحنيك: هو مضغ نحو التمر، وذلك حنك المولود به لينزل منه شئ إلى الجوف.
وقوله: حب الانصار هو بكسر الحاء أي محبوبهم.
(قوله: رجل، فامرأة من أهل الخير) أفاد سن كون المحنك له رجلا، فإن لم يوجد فامرأة.
وأن يكونا من أهل الخير والصلاح.
وعبارة شرح الروض: قال في المجموع: وينبغي أن يكون المحنك له من أهل الخير، فإن لم يكن رجل فامرأة صالحة.
اه.
(وقوله: بتمر) في معناه الرطب.
قال في النهاية: والاوجه تقديم الرطب على التمر نظير ما مر في الصوم.
اه.
ومثله في التحفة.
(وقوله: فحلو) أي فإن لم يوجد تمر فبحلو لم يمسه النار أي كزبيب.

Busyrol Karim

(وتحنيكه بتمر) ذكراً أو أنثى بأن يمضغه ويدلك به حنكه حتى يصل بعضه لجوفه، ويقدم الرطب على التمر كما في الصيام (ثم حلو) لم تمسه نار.

وينبغي كون المحنك من أهل الصلاح؛ لتحصل للمولود بركة ريقه.


فإن تحنيك المولود سنة ثابتة فعلها رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقد أخرج الإمام أحمد في المسند و ابن حبان في صحيحه: أن أبا طلحة الأنصاري لما ولد له ولد من أم سليم أمر أنس بن مالك بحمله إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم ومعه تمرات، فوضع النبي صلى الله عليه وسلم الولد في حجره ثم مضغ بعض التمر وحنكه به مصحوباً بريقه صلى الله عليه وسلم، وسماه عبد الله، ودعا له. 

فلا ينبغي ترك هذه السنة، وينبغي أن يكون من يتولاها من أهل الفضل والصلاح، ممن ترجى بركة دعائه ولن يترتب على فعل هذه السنة إلا خير إن شاء الله تعالى.

ويستحب أن يكون المحنك من أهل الصلاح والفضل رجلاً كان أو امرأة، قال الشوكاني نقلاً عن النووي: اتفق العلماء على استحباب تحنيك المولود عند ولادته بتمر، فإن تعذر فما في معناه أو قريب منه من الحلو، قال: ويستحب أن يكون من الصالحين وممن يتبرك به رجلاً كان أو امرأة.


Imam Asyaukani dalam Nailul Author

قال الإمام الشوكاني في نيل الأوطار 5 / 320 :

قال الإمام النووي : اتفق العلماء على استحباب تحنيك المولود عندولادته بتمر فان تعذر فما في معناه أو قريب منه من الحلو 


Syarah Muslim

قال : ويستحب أن يكون المحنك من الصالحين وممن يتبرك به رجلا كان أو امرأة فان لم يكن حاضرا عند المولود حمل اليه

وانظره في شرح مسلم14 / 122
Imam Nawawi dalam Al-Majmu'

وقال الإمام النووي في المجموع 8 /335 : "وينبغي أن يكون المحنك من أهل الخير، فإن لم يكن رجل فامرأة صالحة"



Wallahu A'lam

Setan menggoda bayi ketika lahir

Ada sebuah hadits, dari Abu Hurairah ra yang meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,
"Tidak ada seorang bayi pun dari anak Adam yang terlahir, kecuali ia pasti mendapat tusukan dari syaitan sehingga bayi itu menangis dan menjerit karenanya, kecuali Maryam dan putranya (Nabi Isa as)."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda, "Jeritan bayi ketika lahir adalah karena mendapat tusukan syaitan." (HR. Muslim)

Dari hadits di atas dijelaskan bahwa semua manusia, entah itu orang tuanya muslim atau tidak, ketika bayi lahir maka akan didatangi syaitan dan diganggu pada saat dilahirkan. Datangnya syaitan pada saat itu adalah untuk menancapkan tusukan ujung jarinya pada kedua mata anak Adam.

Syaitan Mencari Pengikut
Tujuan syaitan menusukkan jarinya tersebut adalah syaitan berharap kelak di kemudian hari, anak Adam tersebut menjadi pengikut setianya. Matanya tidak bisa "MELIHAT" dengan benar antara yang baik dan yang jahat.

Kebaikan akan tampak menjadi bayang-bayang yang samar sehingga ia akan enggan menuju ke arah kebaikan tersebut. Kejahatan akan tampak seperti kilauan cahaya yang snagat meggiurkan sehingga ia akan berlari untuk menyongsongnya.
Oleh karena itu, Rasululah SAW memberi tuntunan kepada umatnya agar terhindar dari gangguan syaitan pada saat bayi dilahirkan.

Pertama
Dengan diazani pada telinga kanannya dan diiqamatkan pada telinga kirinya.
Ibnu Abbas ra menuturkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Ajarkanlah kalimat 'Laa ilaaha Illallahu' kepada anak-anakmu sebagai kalimat pertama yang mereka dengar." (HR. Al-Hakim)
Rasulullah SAW juga bersabda, "Barang siapa yang mendapati seorang bayi yang dilahirkan, kemudian diazankan di telinga kanannya dan diiqamatkan di telinga kirinya, maka ia tidak akan diganggu oleh Ummu Shibyan (syaitan yang selalu mengganggu anak kecil)." (HR. Ibn Sunny dari Hasan ibn Aki ra)
Menurut Rasululah SAW, syaitan akan ketakutan dan berlari sejauh-jauhnya apabila mendengar suara azan.

Kedua
Hal kedua yang bisa dilakukan pada bayi yang baru lahir adalah dengan dibacakan surat Al-Ikhlas pada kedua telinganya. Imam Muhyiddin Abi Zakaria Yahya dalam kitabnya Al-Adzkar Al-Nawawiyyah menjelaskan bahwa Rasullah SAW membacakan surat Al-Ikhlas pada telinga anak yang baru dilahirkan.

Ketiga
Dengan mendoakan bayi yang baru dilahirkan. Untuk meghindari bisikan syaitan pada bayi adalah dengan membacakan surat Ali-Imran ayat 36 dengan maksud untuk memohonkan perlindungan Allah SWT untuk anak yang baru dilahirkan agar terhindar dari godaan syaitan yang terkutuk.

فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالأنْثَى وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَامِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Artinya:
Maka tatkala isteri 'Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: "Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai Dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk."

Doa keselamatan dan perlindungan untuk anak.
"Ya Allah, kumohon perlindungan kepada-Mu untuk anak ini dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan dan kesusahan, dan dari pandangan mata yang menyakitkan." (HR. Bukhari)

Ada 2 pilihan untuk Anda:
1. Biarkan di dalam BBM, catatan atau pikiran
Anda tanpa bermanfaat untuk orang lain.
2. Anda sebarkan pada semua kenalan anda.

Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkan, maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala.

Aroma bayi berasal dari harum surga

PERTANYAAN :
Assalamu'alaikum... benarkah ada sabda nabi muhammad yg menyatakan bahwa bau baby ( bayi) wangi karna berasal dari syurga?

JAWABAN :
Wa'alaikumsalam, dalam kitb Faidhul Qadir, syarah al jaami' ash Shaghir 4/55, syamilah:

ريح الولد من ريح الجنة) يحتمل أن ذلك في ولده خاصة فاطمة وابنيها لأن في ولدها طعم ثمار الجنة بدليل خبر الولد الصالح ريحانة من رياحين الجنة ومنه قيل لعلي أبو الريحانتين ويحتمل أن المراد كل ولد صالح للمؤمن لأنه تعالى خلق آدم في الجنة وغشى حواء فيها وولد له فيها فبنو آدم من نسلها ولهذا قال ابن أدهم : نحن من أهل الجنة سبانا إبليس بالخطيئة فهل للأسير من راحة إلا أن يرجع إلى ما سبي منه ؟ فريح الولد من ريح الجنة لأنه أقرب إليها من أبيه ولم يتدنس بعد بالخطايا والمراد أن الولد كسب الرجل والكسب الطيب والعمل الصالح مقدمة الجنة وهو الزاد إليها (نكتة) قيل لحكيم : أي الريح أطيب قال : ريح ولد أربه وبدن أحبه.

(طس) وكذا في الصغير (عن ابن عباس) قال الهيثمي : رواه عن شيخه محمد بن عثمان بن سعيد وهو ضعيف وقال شيخه الزين العراقي : رواه الطبراني في الأوسط والصغير وابن حبان في الضعفاء عن ابن عباس وفيه مندل بن علي ضعيف اه

وأقول : رواه أيضا البيهقي في الشعب وفيه مندل المذكور.

Berikut beberapa kitab yang menerangkan keberdaan hadits diatas, semoga berkenan...

وعن ابن عبّاس قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم: «رِيْحُ الوَلَدِ مِنْ رِيحِ الجَنَّةِ ». رواه الطبراني في الصغير والأوسط، عن شيخه محمد بن عثمان بن سعيد، وهو ضعيف.


Diriwayatkan dari Ibn Abbas ra, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Aroma anak berasal dari aroma wangi surga” (HR. At-Thobrony dalam as-Shaghir dan dalam al-Ausaath dari guru beliau Muhammad Bin Utsman Bin Said, hadits dhoif. Mujma’ az=Zawaahid VIII/286

قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلّم: «رِيحُ الْوَلَدِ مِنْ رِيحِ الْجَنَّةِ » (طس) عن ابن عبَّاسٍ رضيَ اللَّهُ عنهُمَا.


Nabi SAW bersabda : “Aroma anak berasal dari aroma wangi surga” (HR. At-Thobrony dari Ibn Abbas ra). Jaami’ al-Masaanid wa al-Marasil IV/430

رِيحُ الوَلَدِ مِنْ رِيحِ الـجَنَّةِ (طس) عن ابن عبـاس


Nabi SAW bersabda : “Aroma anak berasal dari aroma wangi surga” (HR. At-Thobrony dari Ibn Abbas ra). al-Fath al-Kabiir II/137

رِيحُ الوَلَدِ مِنْ رِيحِ الـجَنَّةِ (طس) عن ابن عبـاس


Nabi SAW bersabda : “Aroma anak berasal dari aroma wangi surga” (HR. At-Thobrony dari Ibn Abbas ra). ad Durar al-Munatstsarah I/176

رِيحُ الوَلَدِ مِنْ رِيحِ الـجَنَّةِ (طس) عن ابن عبـاس


Nabi SAW bersabda : “Aroma anak berasal dari aroma wangi surga” (HR. At-Thobrony dari Ibn Abbas ra). Kanz al-‘Amal I/3355

حديث "ريح الولد ريح الجنة" أخرجه الطبراني في الصغير والأوسط وابن حبان في الضعفاء من حديث ابن عباس وفيه مندل بن علي ضعيف.


Nabi SAW bersabda : “Aroma anak berasal dari aroma wangi surga” (HR. At-Thobrony dalam as-Shaghir dan al-Ausaath). Ibn Hibban menggolongkannya pada hadits-hadits lemah yang berasal dari Ibn Abbas, didalam sanadnya terdapat Mindil Bin Ali. Tahriij Ahaadits al-Ihyaa’

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "الولد ريحانة من الجنة". وقال الفضل: ريح الولد من الجنة. وكان يقال: ابنك ريحانتك سبعاً ثم حاجبك سبعاً، ثم عدو أو صديق.


Nabi SAW bersabda : “Aroma anak berasal dari aroma wangi surga” (HR. At-Thobrony dalam as-Shaghir dan al-Ausaath). al-Fadhl berkata “Aroma wangi anak berasal dari surga”. Dikatakan “Anakmu adalah aroma surgamu diusia 7 tahun, kemudian menjadi alismu diusia 7 tahun berikutnya dan menjadi musuh atau teman baikmu setelahnya’’. AL-Mustathrof fii Kulli Fan Mustadhrof Hal 4
Lanjutan dan sedikit pengertiannya :

وعن النبي صلى الله عليه وسلم ريح الولد من ريح الجنة وفي ربيع الأبرار عن النبي صلى الله عليه وسلم الولد ريحان من الجنة عن النبي صلى الله عليه وسلم الولد في الدنيا سرور وفي الآخرة نور

 

Nabi SAW bersabda : “Aroma anak berasal dari aroma wangi surga” (HR. At-Thobrony dalam as-Shaghir dan al-Ausaath). Dalam Kitab Rabi’ al-Abraar dari Nabi SAW “Nabi SAW bersabda : “Aroma anak berasal dari aroma wangi surga”. Dari baginda nabi SAW “Didunia anak adalah kebahagiaan, diakhirat anak adalah cahaya”. Nazhah al-Majaalis V/5

( عن أبي هريرة ) 

بأسانيد ضعيفة لكن بعضها يقوى بعضاً

( ريح الولد من ريح الجنة ) 

يحتمل أنه في ولده فقط فاطمة وأبناها وأن المراد ولد كل مؤمن لأنه تعالى خلق آدم في الجنة وغشى حواء فيها وولد له فريح الجنة يسرى إلى المولود من ذلك ( طس عن ابن عباس ) بإسناد ضعيف


Diriwayatkan dari Abu Hurairah dengan sanad yang dhoif namun sebagian sanad menguatkan lainnya, Rasulullah SAW bersabda : “Aroma anak berasal dari aroma wangi surga”.

Yang dikehendaki hadits ini kemungkinan tertentu pada anak beliau saja, Fathimah dan keturunannya, namun bisa jadi maksud beliau adalah setiap anak dari orang mukmin karena Allah Ta’aala menjadikan Nabi Adam As dan menyelubungi Hawa dalam surga, saat mereka dikarunia putera maka aroma surgawi mengalir disetiap keturunan mereka.
(HR. At-Thobrony dari Ibn Abbas ra) dengan sanad yang dhoif. [ At-Taysiir Bi Syarh al-Jaami’ as-Shaghiir II/72 ].

(ريح الولد من ريح الجنة) 

يحتمل أن ذلك في ولده خاصة فاطمة وابنيها لأن في ولدها طعم ثمار الجنة بدليل خبر الولد الصالح ريحانة من رياحين الجنة ومنه قيل لعلي أبو الريحانتين ويحتمل أن المراد كل ولد صالح للمؤمن لأنه تعالى خلق آدم في الجنة وغشى حواء فيها وولد له فيها فبنو آدم من نسلها ولهذا قال ابن أدهم : نحن من أهل الجنة سبانا إبليس بالخطيئة فهل للأسير من راحة إلا أن يرجع إلى ما سبي منه ؟ فريح الولد من ريح الجنة لأنه أقرب إليها من أبيه ولم يتدنس بعد بالخطايا


“Aroma anak berasal dari harum surga”
Yang dikehendaki hadits ini kemungkinan tertentu pada anak beliau saja, Fathimah dan keturunannya berdasarkan hadits “Anak shalih adalah wewangian dari aroma-aroma surga” sebab itu Ali Bin Abu Thalib disebut “ABU RAIHANATIN (bapaknya aroma-aroma wangi), namun bisa jadi maksud beliau adalah setiap anak dari orang mukmin karena Allah Ta’aala menjadikan Nabi Adam As dan menyelubungi Hawa dalam surga, saat mereka dikarunia putera maka aroma surgawi mengalir disetiap keturunan mereka sebab itu Ibrahim Bin Adham pernah berkata : “Kami adalah ahli surga hanya saja Iblis mengasingkan kami dengan kesalahan, adakah bagi seorang tahanan tersisa waktu luang untuk berusaha keluar melepaskan diri pengasingannya ?”, Maka aroma anak berasal dari wangi surga karena ia lebih dekat surga ketimbang bapaknya dan dosa-dosa tidak menjadikannya ternodai setelahnya. [ Faidh al-Qadiir IV/55 ].

Wallaahu A’lamu Bis Showaab.

Janin dan zakat fitrah

PERTANYAAN :
Assalamu'alaikum, Wr.Wb. Janin yang ada dalam kandungan itu sudah wajib dikenakan ketentuan zakat fitrah belum? adakah beda pandangan antara yang mengatakan wajib dan tidaknya ? Kemudian manakah yang benar sesuai syariat Islam ?

JAWABAN :
Wa'alaikum salam wr wb, tidak wajib zakat,salah satu syarat wajib zakat fitrah adalah dia mengalami/menemui terbenamnya matahari pada hari terakhir bulan Ramadhan (dengan kata lain: mendapati sebagian dari akhir Ramadhan dan sebagian dari awal Syawal, dan ini ditandai dengan terbenamnya matahari pada akhir Ramadhan), maka jika jika meninggal sebelum terbenamnya matahari akhir Ramadhan atau lahir seorang anak setelah terbenamnya matahari, maka tidak wajib bagi mereka zakat fitrah. [ Referensi : I’anatuth Thaalibin juz II hal. 191. Darul Fikr ].

Wajibnya zakat fitrah dgn menututi juz bln ramdhan & juz bulan syawwal ,Dalam hal ini ada dua perkara sbb

1. bayi yg di lahirkan stlh tenggelamnya mata hari pd awal bln syawwal {malam hari raya} tdk wajid di keluarkan zakat fitrahnya 2.orang yg meninggal sebelum tenggelamnya mata hari pd akhir bulan ramadhan juga tdk wjb zakat fitrah.{karena keduanya tdk nututi juz bln ramadhan dan bulan syawal. [ Syarqawi alattahrir jz 1 hl 369 ].

Wa'alaikumsalam.....
 TIDAK WAJIB ditunaikan zakat fitrah bagi janin tersebut.. Lihat kitab Nihaayah az-Zain I/174 :

ويشترط في المؤدى عنه أمران الأول الإسلام فلا تخرج الفطرة عن كافر وفي المرتد ما مر الثاني أن يدرك وقت وجوبها الذي هو آخر جزء من رمضان وأول جزء من شوال فتخرج عمن مات بعد الغروب وعمن ولد قبله ولو بلحظة دون من مات قبله ودون من ولد بعده


Syarat orang yang boleh dizakati fitrah :

1. Islam, karenanya zakat fitrah tidak dikeluarkan atas orang kafir, sedang orang murtad bahasannya telah lewat.

2. Bila orang yang hendak dizakati mendapati “waktu wajibnya zakat fitrah” yakni bagian akhir dari bulan ramadhan dan permulaan dari bulan syawal (misalkan maghrib tanggal akhir ramadhan pukul 17.35 WIB, berarti 17.35 WIB yang dikatakan waktu wajibnya zakat fitrah).

Maka zakat fitrah dikeluarkan atas orang yang meninggal setelah terbenamnya matahari dan orang yang dilahirkan sebelum terbenamnya matahari (karena keduanya sama-sama mendapatkan bagian akhir dari bulan ramadhan dan permulaan dari bulan syawal/pukul 17.35 WIB) dan zakat firah tidak dikeluarkan atas orang yang mati sebelum terbenamnya matahari (karena dia tidak mendapatkan pukul 17.35 WIB) dan orang yang dilahirkan setelah terbenamnya matahari (karena dia tidak mendapatkan bagian akhir ramadhan pukul 17.35 WIB).

Maka untuk itu lebih jelasnya janinnya itu harus lahir terlebih dahulu baru bisa ditentukan kepastian wajib zakat fitrahnya itu..BAHKAN ANDAIKAN JANINNYA SUDAH KELUAR SEPAROH PUN TIDAK WAJIB DIZAKATI.

لو خرج بعض الجنين قبل الغروب وباقيه بعده فلا وجوب ؛ لأنه جنين ، ما لم يتم انفصاله ، م ر وسم أج


Bila sebagian janin keluar sebelum terbenamnya matahari (diakhir ramadhan) dan sisanya lagi setelah terbenamnya matahari maka juga tidak wajib dizakati, karena artinya ia masih berbentuk janin selagi belum sempurna kelahirannya. [ Tuhfatul Habib III/66 ].

Proses pembentukan Janin menurut Al Qur'an

QS. As-Sajdah: 8:

ثم جعل نسله من سلالة من ماء مهين


“(Tuhan) menjadikan keturunannya (manusia) dari sulalat (saripati) maa’ (cairan) yang mahin (hina).”
(QS. As-Sajdah: 8)

Kata sifat “yang hina” mesti diterapkan tidak saja pada sifat cairan itu sendiri, melainkan juga fakta bahwa ia disemprotkan melalui saluran kencing. Mengenai kata “saripati” atau suatu komponen bagian dari komponen yang lain, kita bertemu dengan kata sulalat yang menunjukkan pada “sesuatu bahan yang diambil dari bahan yang lain” dan merupakan bagian terbaik dari bahan itu. Konsep yang diungkapkan disini, tidak bisa tidak, membuat kita berfikir tentang spermatozoa. Yang menyebabkan pembuahan sel telur atau memungkinkan reproduksi adalah sebuah sel panjang yang besarnya 1/10.000 milimeter.
Telur yang sudah dibuahi, turun bersarang di rongga rahim (cavum uteri). Inilah yang dinamakan “bersarangnya telur”.

Al-Qur’an menamakan uterus tempat telur dibuahkan itu rahim (kata jamaknya “arham”).
QS. Al-Hajj: 5:

و نفرّق في الأرحام ما نشاء إلى أجل مسمى


“Dan Kami tetapkan dalam “arham” apa yang kamu kehendaki sampai waktu yang ditentukan”
(QS. Al-Hajj: 5)

Begitu sel telur dibuahi, ia turun ke rahim melalui tabung fallopi, kemudian menanamkan dirinya dengan menyusup ke dalam ketebalan atau kekentalan lendir dan otot-otot. Menetapnya telur dalam rahim karena tumbuhnya jonjot, yakni perpanjangan telur yang akan menghisap dinding rahim. Pertumbuhan semacam ini mengokohkan telur dalam rahim.

Penanaman sel telur yang telah dibuahi di dalam rahim disebutkan dalam banyak ayat al-Qur’an. Kata arab yang digunakan dalam konteks ini adalah ‘alaq yang arti tepatnya adalah “sebentuk lintah yang menggantung” sebagai mana dalam ayat berikut ini:

QS. Al-Qiyaamah: 37-38:

ألم يك نطفة من منيّ يمنى ثم كان علقة فخلق فسوّى


“Bukankah (manusia) dahulu merupakan nuthfah (setitik bagian) dari mani (sperma) yang ditumpahkan? Kemudian ia menjadi alaqah (sebentuk lintah yang menggantung); lalu Allah membentuknya (dalam ukuran yang tepat dan selaras) dan menyempurnakannya.”

(QS. Al-Qiyaamah: 37-38)

Merupakan suatu fakta yang kuat bahwa sel telur yang dibuahi, tertanam dalam lendir rahim kira-kira hari keenam setelah pembuahan mengikutinya, dan secara anatomis telur tersebut bentuknya benar-benar menyerupai lintah yang menggantung. Sedang kata ‘alaq yang selama ini diartikan sebagai segumpal darah, sesungguhnya merupakan arti turunan.

Gagasan tentang “kebergantungan” justru mengungkap arti asli kata ‘alaq. Hingga arti asli alaq sebagai “sebentuk lintah yang menggantung/melekat” sudah sepenuhnya memadai dan sesuai dengan penemuan ilmiah modern.

Segera setelah berevolusi melampaui tahap yang dicirikan di dalam al-Qur’an oleh kata sederhana ‘alaqah, diteruskan dengan tahap selanjutnya.

QS. Al-Mukminuun: 14:

ثم خلقنا النطفة علقة فخلقنا العلقة مضغة فخلقنا المضغة عظاما فكسونا العظام لحما ثم أنشأناه خلقا آخر فتبارك الله أحسن الخالقين


“Kemudian nuthfah(setitik bahan dari mani) itu Kami bentuk menjadi alaqah (sebentuk lintah yang menggantung), lalu alaqah itu Kami bentuk menjadi mudghah (daging yang digulung-gulung), dan mudghah itu Kami bentuk menjadi idham (tulag belulang), lalu idham itu Kami bungkus dengan lahm (daging yang utuh). Kemudian Kami jadikan ia makhluk yang berbentuk lain. Maha suci Allah, Pencipta yang paling baik.”
(QS. Al-Mukminuun: 14)
 
Dua tipe daging yang diberi dua nama yang berbeda dalam al-Qur’an, yang pertama adalah “daging yang digulung-gulung” yaitu mudghah, dan “daging yang sudah utuh” yaitu lahm yang mengurai dengan tepat bagaimana rupa otot itu.

Jadi dari mudghah, lalu berkembanglah sistem tulang. Tulang yang dibentuk dibungkus dengan otot, inilah yang disebut ‘lahm’.

QS. Al-Hajj: 5:

يا أيها الناس إن كنتم في ريب من البعث فإنا خلقناكم من تراب ثم من نطفة ثم من علقة ثم من مضغة مخلقة و غير مخلقة لنبين لكم


“Hai manusia, jika kamu ragu akan kebangkitan kubur, maka (ketahuilah) bahwa Kami telah membentuk kamu dari thurab (tanah), kemudian dari nuthfah, kemudian dari alaqah, kemudian dari mudghah, yang mukhallaq (seimbang proporsinya), dan ghairi mukhallaq (yang kurang seimbang proporsinya), agar Kami jelaskan kepada kamu.”
(QS. Al-Hajj: 5)

Dalam perkembangan embrio, yang sebelumnya tampak sebagai sekelemit daging yang tidak memiliki bagian-bagian yang bisa dibedakan, kemudian dikembangkan secara bertahap hingga mencapai bentuk manusia. Dan selama tahap-tahap ini ada bagian-bagian yang seimbang, namun ada pula bagian-bagian tertentu yang tidak seimbang proporsinya: seperti kepala agak lebih besar volumenya dibandingkan bagian-bagian tubuh lainnya. Namun akhirnya hal ini akan menyusut, sedang struktur penopang hidup dasar membentuk kerangka yang dikelilingi otot-otot, sistem syaraf, sistem peredar, isi perut (bagian dalam tubuh) dan sebagainya.

Al-Qur’an juga menyebutkan munculnya indra-indra dan bagian dalam tubuh.
QS. As-Sajdah: 9:

ثم سويه و نفخ فيه من روحه و جعل لكم السمع و الأبصار و الأفئدة قليلا ما تشكرون


“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)-nya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagimu pendengaran, penglihatan, dan hati; tetapi sedikit sekali kamu bersyukur.”
Teori ini juga selaras dengan teori yang diungkapkan oleh Dr. Hassan Hathout, dalam Revolusi Seksual Perempuan: Obsterti dan Ginekologi dalam Perspektif Islam yang menulis bahwa organ (indra) yang pertama kali berkembang pada janin adalah pendengaran dibulan keempat dan penglihatan, dimana mata janin telah peka pada cahaya, di bulan ketujuh, sebagaimana ditulis Sarwono Prawiroharjo terkait dengan perkembangan fisiologis janin dalam buku Ilmu Kebidanan yang disusunnya.

Kehamilan seorang ibu

Ilustrasi. (fizgraphic.com)

Sunnah-Sunnah Selama Kehamilan

Apa Saja Sunnah-Sunnah yang Perlu Dilakukan Selama Kehamilan?
Pertanyaan:
Bismillah… Saya baru saja tes kehamilan setelah telat 15 hari… Dan ngecek ke bidan. Insya Allah positif. Yang ingin saya tanyakan apa saja sunnah-sunnah yang baiknya dilakukan selama kehamilan hingga melahirkan nanti ya? Terima kasih.

Jawaban:
Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ‘Ala Aalihiwa Ashhabihi wa Man waalah, wa ba’d:
Kepada ibu yang dimuliakan Allah Ta’ala …. Semoga rahmat dan rahim-Nya menyempurnakan kebahagiaan ibu sekeluarga dan kita semua…

Sebenarnya tidak ada petunjuk khusus dan rinci dalam Al Quran dan As Sunnah untuk ibu-ibu hamil. Namun, kehamilan adalah salah satu nikmat Allah Ta’ala kepada hamba-Nya dan tanda-tanda kekuasaan-Nya di hadapan mereka. Oleh karena itu, mensyukuri nikmat “kehamilan” adalah bagian dari ajaran Islam.
Ada beberapa hal yang sebaiknya kita lakukan selama kehamilan:

1. Bergembira atas berita kehamilan.
Ini yang mesti diingat oleh seorang muslimah yang sedang hamil (tentu dari suami yang sah).  Sebab, Allah Ta’ala mempercayakan dirinya dan suami untuk melahirkan, merawat, membesarkan, dan mendidik salah satu hamba-Nya. Baik itu kehamilan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya, tetaplah bergembira. Cukup banyak wanita hanya mensyukuri kehamilan pertama atau kedua –karena ini yang dinanti-nanti- tetapi mereka nampak shock dengan kehamilan selanjutnya, apalagi kehamilan itu di luar rencana mereka. Seharusnya mereka bersyukur dimudahkan oleh Allah Ta’ala untuk hamil, sementara masih banyak wanita yang berjuang bertahun-tahun, belasan, bahkan sampai mereka tua belum dikaruniai anak. Lebih dari itu, ada yang sampai menghabiskan biaya besar untuk hamil, bahkan menggadaikan aqidah dengan datang ke dukun.
Bergembira atas datangnya jabang bayi telah Allah Ta’ala ajarkan dalam beberapa ayat berikut ini, ketika menceritakan lahirnya Ismail dan Ishaq untuk Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam:

فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ


Maka Kami beri dia (Ibrahim) kabar gembira dengan seorang anak yang Amat sabar (Yakni Ismail). (QS. Ash Shafat: 101)

Ayat yang lain:

إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ


  “Sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang yang alim (yakni Ishaq)” (QS. Al Hijr: 53)

2. Melindungi diri dan kandungan dari gangguan setan
Hendaknya seorang muslim dan muslimah, apalagi ibu hamil, tidak melupakan dzikir-dzikir ma’tsur yang memang Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam ajarkan, baik yang berasal dari Al Quran seperti membaca Al Mu’awwidzaat (Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas), Al Fatihah, lima ayat awal Al Baqarah dan tiga ayat terakhirnya, juga ayat Kursi. Begitu pula doa-doa perlindungan dari nabi, seperti a’udzu bikalimaatillahi taammati min syarr maa khalaq, pagi dan petang.

3. Jangan lupa membaca Al-Quran minimal mendengarkannya
Tidak ayat surat dan ayat khusus untuk ibu-ibu hamil dan bayi dalam kandungannya. Bacalah Al Quran pada surat apa pun dan biasakanlah hal itu sebagai pendengaran yang baik bagi jabang bayi, dan hindarilah lagu dan musik jahiliyah. Semoga hal itu menjadi budaya baik yang melekat di telinga jabang bayi yang membekas sampai dia lahir dan besar nanti.

4. Hindari kepercayaan terhadap mitos-mitos yang menodai aqidah
Biasanya, cukup banyak tahayul dan khurafat yang menyertai ibu-ibu hamil. Mereka ditakut-takuti dengan berbagai larangan dan perintah yang tidak ada dasarnya dari agama Islam, melainkan berdasarkan keyakinan tidak jelas dari mana sumbernya. Seperti larangan memasukkan bantal ke sarungnya, karena takut susah melahirkan; atau jika melihat yang jelek-jelek maka ucapkanlah “amit-amit jabang bayi” sambil mengusap perut dengan harapan agar  bayi nanti lahir tidak jelek seperti yang dilihatnya.

5. Memeriksakan kesehatan ibu dan bayi secara teratur kepada  ahlinya
Ini merupakan upaya logis dan sunnatullah yang mesti dilakukan. Tidak sekadar mengandalkan tawakal setelah dzikir dan doa, tetapi sebab-sebab kauniyah yang natural juga mesti disediakan. Larangan-larangan yang sifatnya medis, begitu pula anjurannya, hendaknya diperhatikan. Jangan sampai ibu hamil lebih percaya dengan tahayul dan khurafat, tetapi dengan hal-hal yang ilmiah justru tidak dipercaya.

6. Jika sulit melahirkan cobalah lakukan sunnahnya Ibnu Abbas dan Ali  Radhiallahu ‘Anhuma
Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘Anhuma mengatakan:

إذا عسر على المرأة ولدها تكتب هاتين الآيتين والكلمتين في صحيفة ثم تغسل وتسقى منها، وهي: بسم الله الرحمن الرحيم لا إله إلا الله العظيم الحليم الكريم، سبحان الله رب السموات ورب الارض ورب العرش العظيم ” كأنهم يوم يرونها لم يلبثوا إلا عشية   أو ضحاها ” [ النازعات: 46 ]. ” كأنهم يوم يرون ما يوعدون لم يلبثوا إلا ساعة من نهار بلاغ فهل يهلك إلا القوم الفاسقون “


“Jika seorang wanita kesulitan ketika melahirkan, maka Anda tulis dua ayat berikut secara lengkap di lembaran, kemudian masukkan ke dalam air dan kucurkan kepada dia, yaitu kalimat: Laa Ilaha Illallah Al Halimul Karim Subhanallahi Rabbil ‘Arsyil ‘Azhim Al Hamdulillahi Rabbil ‘Alamin. (Tiada Ilah Kecuali Allah yang Maha Mulia, Maha Suci Allah Rabbnya Arsy Yang Agung, Segala Puji Bagi Allah Rabb Semesta Alam)
Ka’annahum yauma yaraunaha lam yalbatsu illa ‘asyiyyatan aw dhuhaha. (Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia), melainkan sebentar saja di waktu sore atau pagi. QS. An Nazi’at (79): 46)

Ka’annahum yauma yarauna maa yu’aduna lams yalbatsuu illa saa’atan min naharin balaagh. (Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup. QS. Al Ahqaf (46): 35) (Imam Al Qurthubi, Al Jami’ Li Ahkamil Quran, 16/222. Dar Ihya’ At Turats)

Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan sebagai berikut:

فَصْلٌ وَيَجُوزُ أَنْ يَكْتُبَ لِلْمُصَابِ وَغَيْرِهِ مِنْ الْمَرْضَى شَيْئًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَذِكْرُهُ بِالْمِدَادِ الْمُبَاحِ وَيُغْسَلُ وَيُسْقَى كَمَا نَصَّ عَلَى ذَلِكَ أَحْمَد وَغَيْرُهُ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَد : قَرَأْت عَلَى أَبِي ثِنَا يَعْلَى بْنُ عُبَيْدٍ ؛ ثِنَا سُفْيَانُ ؛ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ الْحَكَمِ ؛ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ ؛ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : إذَا عَسِرَ عَلَى الْمَرْأَةِ وِلَادَتُهَا فَلْيَكْتُبْ : بِسْمِ اللَّهِ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ { كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا } { كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ بَلَاغٌ فَهَلْ يُهْلَكُ إلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ } . قَالَ أَبِي : ثِنَا أَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ بِإِسْنَادِهِ بِمَعْنَاهُ وَقَالَ : يُكْتَبُ فِي إنَاءٍ نَظِيفٍ فَيُسْقَى قَالَ أَبِي : وَزَادَ فِيهِ وَكِيعٌ فَتُسْقَى وَيُنْضَحُ مَا دُونَ سُرَّتِهَا قَالَ عَبْدُ اللَّهِ : رَأَيْت أَبِي يَكْتُبُ لِلْمَرْأَةِ فِي جَامٍ أَوْ شَيْءٍ نَظِيفٍ . وَقَالَ أَبُو عَمْرٍو مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَد بْنِ حَمْدَانَ الحيري : أَنَا الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ النسوي ؛ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَد بْنِ شبوية ؛ ثِنَا عَلِيُّ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ شَقِيقٍ ؛ ثِنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ ؛ عَنْ سُفْيَانَ ؛ عَنْ ابْنِ أَبِي لَيْلَى ؛ عَنْ الْحَكَمِ ؛ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ ؛ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : إذَا عَسِرَ عَلَى الْمَرْأَةِ وِلَادُهَا فَلْيَكْتُبْ : بِسْمِ اللَّهِ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ ؛ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ ؛ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ { كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا } { كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ بَلَاغٌ فَهَلْ يُهْلَكُ إلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ } . قَالَ عَلِيٌّ : يُكْتَبُ فِي كاغدة فَيُعَلَّقُ عَلَى عَضُدِ الْمَرْأَةِ قَالَ عَلِيٌّ : وَقَدْ جَرَّبْنَاهُ فَلَمْ نَرَ شَيْئًا أَعْجَبَ مِنْهُ فَإِذَا وَضَعَتْ تُحِلُّهُ سَرِيعًا ثُمَّ تَجْعَلُهُ فِي خِرْقَةٍ أَوْ تُحْرِقُهُ


“Dibolehkan bagi orang yang sakit atau tertimpa lainnya, untuk dituliskan baginya sesuatu yang berasal dari Kitabullah dan Dzikrullah dengan menggunakan tinta yang dibolehkan (suci) kemudian dibasuhkan tulisan tersebut, lalu airnya diminumkan kepada si sakit, sebagaimana hal ini telah ditulis (dinashkan) oleh Imam Ahmad dan lainnya.

Abdullah bin Ahmad berkata; Aku membaca di depan bapakku: telah bercerita kepada kami Ya’la bin ‘Ubaid telah bercerita kepada kami Sufyan, dari Muh. bin Abi Laila, dari Hakam, dari Said bin Jubeir dari Ibnu Abbas ia berkata: “Jika seorang ibu sulit melahirkan maka tulislah …

بِسْمِ اللَّهِ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

          “Dengan nama Allah, Tidak ada Ilah selain Dia, Yang Maha Mulia, Maha Suci Allah Rabbnya ‘Arys yang Agung, segala puji bagi Allah Rabba semesta alam.”

كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا

          “Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.” (QS. An Naziat (79):46)

كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ بَلَاغٌ فَهَلْ يُهْلَكُ إلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ

        “Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, Maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.” (QS. Al Ahqaf (46): 35)

Bapakku berkata: Telah menceritakan kepadaku Aswad bin ‘Amir dengan sanadnya dan dengan maknanya dan dia berkata: Ditulis di dalam bejana yang bersih kemudian diminum. Bapakku berkata: Waki’ menambahkannya: Diminum dan dipercikkan kecuali pusernya (ibu yang melahirkan), Abdullah berkata: Aku melihat bapakku menulis di gelas atau sesuatu yang bersih untuk seorang ibu (yang sulit melahirkan).
Abu Amr Muham mad bin Ahmad bin Hamdan Al Hiri berkata: Telah mengabarkan kepada kami Al Hasan bin Sufyan An Nasawi, telah bercerita kepadaku Abdullah bin Ahmad bin Syibawaih telah bercerita kepadaku Ali bin Hasan bin Syaqiq, telah bercerita kepadaku Abdullah bin Mubarak, dari Sufyan dari ibnu Abi Laila, dari Al Hakam, dari Said bin Jubeir, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Jika seorang wanita sulit melahirkan maka tulislah:
(lalu disebutkan ayat-ayat seperti di atas)

Ali berkata: ditulis di atas kertas kemudian digantungkan pada anggota badan wanita (yang susah melahirkan). Ali berkata: Dan sungguh kami telah mencobanya, maka tidaklah kami melihat sesuatu yang lebih menakjubkan (hasilnya) dari padanya maka jika wanita tadi sudah melahirkan maka segeralah lepaskan, kemudian setelah itu sobeklah atau bakarlah.”(Demikian fatwa Imam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa, 4/187. Maktabah Syamilah)

Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah Rahimahullah menyebutkan beberapa riwayat dari kaum salaf (terdahulu) kebolehan membaca atas menuliskan ayat Al Quran pada wadah lalu airnya dipercikkan kepada orang sakit. Berikut ini ucapannya:

قَالَ الْخَلّالُ حَدّثَنِي عَبْدُ اللّهِ بْنُ أَحْمَدَ : قَالَ رَأَيْتُ أَبِي يَكْتُبُ لِلْمَرْأَةِ إذَا عَسُرَ عَلَيْهَا وِلَادَتُهَا فِي جَامٍ أَبْيَضَ أَوْ شَيْءٍ نَظِيفٍ يَكْتُبُ حَدِيثَ ابْنِ عَبّاسٍ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ لَا إلَهَ إلّا اللّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ سُبْحَانَ اللّهِ رَبّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ الْحَمْدُ لِلّهِ رَبّ الْعَالَمِينَ { كَأَنّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ بَلَاغٌ } [ الْأَحْقَافُ 35 ] { كَأَنّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلّا عَشِيّةً أَوْ ضُحَاهَا } [ النّازِعَاتُ 46 ] . قَالَ الْخَلّالُ أَنْبَأَنَا أَبُو بَكْرٍ الْمَرْوَزِيّ أَنّ أَبَا عَبْدِ اللّهِ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا عَبْدِ اللّهِ تَكْتُبُ لِامْرَأَةٍ قَدْ عَسُرَ عَلَيْهَا وَلَدُهَا مُنْذُ يَوْمَيْنِ ؟ فَقَالَ قُلْ لَهُ يَجِيءُ بِجَامٍ وَاسِعٍ وَزَعْفَرَانٍ وَرَأَيْتُهُ يَكْتُبُ لِغَيْرِ وَاحِدٍ

“Berkata Al Khalal: berkata kepadaku Abdullah bin Ahmad, katanya: Aku melihat ayahku menulis untuk wanita yang sulit melahirkan di sebuah  wadah putih atau sesuatu yang bersih, dia menulis hadits Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu:
Laa Ilaha Illallah Al Halimul Karim Subhanallahi Rabbil ‘Arsyil ‘Azhim Al Hamdulillahi Rabbil ‘Alamin. (Tiada Ilah Kecuali Allah yang Maha Mulia, Maha Suci Allah Rabbnya Arsy Yang Agung, Segala Puji Bagi Allah Rabb Semesta Alam)

Ka’annahum yauma yarauna maa yu’aduna lam yalbatsuu illa saa’atan min naharin balaagh. (Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup. QS. Al Ahqaf (46): 35)

Ka’annahum yauma yaraunaha lam yalbatsu illa ‘asyiyyatan aw dhuhaha. (Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia), melainkan sebentar saja di waktu sore atau pagi. QS. An Nazi’at (79): 46)

Al Khalal mengatakan: mengabarkan kepadaku Abu Bakar Al Marwazi, bahwa ada seseorang datang kepada  Abu Abdullah (Imam Ahmad), dan berkata: “Wahai Abu Abdillah (Imam Ahmad), kau menulis untuk wanita yang kesulitan melahirkan sejak dua hari yang lalu?”,
Dia menjawab: “Katakan baginya, datanglah dengan wadah yang lebar dan minyak za’faran. “ Aku melihat dia menulis untuk lebih dari satu orang. (Zaadul Ma’ad, 4/357. Muasasah Ar Risalah)

Beliau juga mengatakan:

وَرَخّصَ جَمَاعَةٌ مِنْ السّلَفِ فِي كِتَابَةِ بَعْضِ الْقُرْآنِ وَشُرْبِهِ وَجَعَلَ ذَلِكَ مِنْ الشّفَاءِ الّذِي جَعَلَ اللّه فِيهِ . كِتَابٌ آخَرُ لِذَلِكَ يُكْتَبُ فِي إنَاءٍ نَظِيفٍ { إِذَا السّمَاءُ انْشَقّتْ وَأَذِنَتْ لِرَبّهَا وَحُقّتْ وَإِذَا الْأَرْضُ مُدّتْ وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلّتْ } [ الِانْشِقَاقُ 41 ] وَتَشْرَبُ مِنْهُ الْحَامِلُ وَيُرَشّ عَلَى بَطْنِهَا .

“Segolongan kaum salaf memberikan keringanan dalam hal menuliskan sebagian dari ayat Al Quran dan meminumnya, dan menjadikannya sebagai obat yang Allah jadikan padanya. Untuk itu, dituliskan di bejana yang bersih:
“Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya langit itu patuh, dan apabila bumi diratakan, dan dilemparkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong.” (QS. Al Insyiqaq (84): 1-4)
Lalu diminumkan kepada orang hamil dan diusapkan ke perutnya.

(Ibid, 4/358). Demikian. Wallahu A’lam
Diposkan oleh Prabu Agung Alfayed di 02.22